Jumat, 24 Maret 2017

Ruang Jiwa - "Satu Persen"

Pernah denger pepatah "sudah jatuh ketimpa tangga?" pasti udah dong ya, itu kalimat udah dari jaman gue SD udah ada. Yah itu yang gue alamin sekarang sejak masuk ke tahun 2017. Gue ga tau apakah tiap manusia punya tahun sialnya, tapi sepanjang hayat hidup gue inilai tahun tersial gue. Gue dapet banyak masalah, ada yang yang kecil ada yang gede banget. Tapi di sini gue ceritain kesialan gue hari ini. 

Gue dapet hasil tugas yang dikerjain secara individu. Itu bukan tugas bukan kayak soal-soal gitu. Tapi semacam tugas menggambarlah kalau untuk anak SD. Gue kerjain tugas itu dengan sepenuh hati, biasanya kalau gue buat tugas itu gue udah bisa nembak kira-kira nilai gue ada di range berapa. Sejujurnya, gue paling benci tugas kayak gini, karena gue bilang tingkat kesubjektifitasannya tinggi banget. Lo posisin jadi guru ada gambar a,b,c dan lo kasih nilai trus kalau tuh gambar gua yang nilai atau orang yang lain yang nilai pasti beda nilainya karena apa tiap orang punya pandangannya masing-masing. Walaupun udah pakai rubrik tetep aja. Sebuah hasil karya orang bisa terukur dengan angka entah itu 70, 80, 50, 60. Misalnya aja gini Gue kasih kriteria nomor 1 untuk gambar a 3 poin dan mungkin lo akan ngasih 4 atau 2 poin untuk gambar a dan pada akhirnya nilai yang gue kasih untuk gambar a adalah 78 dan akumulasi dari lo 83 itu aja udh nunjukin perbedaan yang cukup jauh. Bener ga? gue rasa2nya pengen penelitian skripsi tentang ini cuman ya susah keknya, gue tinggal di negara yang namanya indonesia.

Gue kalau salah atau karya gue jelek okelah gue akuin. Tapi ini? Gue punya hobi colouring for adult dan untuk kritria pewarnaan gue cuman dapet 3, untuk gambar cuman dapet 2, dan kerapian juga 2. Heran gue juga, ada yang menurut pandangan mata gue kurang pas gitu cuman nilainya malah jauh lebih tinggi dari gue. Pokoknya hal itu masih jadi pertanyaan besar buat gue, dan ga ngerti lagi. Itu hal pertama yang udh buat gue bete. 

Pas perjalanan pulang, gue udah rencana mau bikin indomie abis itu mau tidur. Eh, pas nyampe stasiun dan mau pesen go jek ternyata ga bisa. Itu posisi jam 15.10 dan kondisi batre gue tinggal 27% emang gue belom ngecas seharian karena gue pikir pulang cepet dan untuk persediaan batre yang gua bawa dari rumah gua pikir cukuplah. Itu gue paksa terus, tapi kayak gaada koneksi internet. Gue bingung tuh, apa karena di stasiun jadi sinyal jelek tapi ini kali pertama gue. Pas nunggu beberapa saat, gue keluar dari stasiun tapi tetep aja gaada koneksi internet. Gue males minta tolong ke orang pasti ga bakalan ditolongin entah itu dia takut gue copet atau apalah yang jelas gue males. Sampe batre gue tinggal 8% gue langsung ke grapari mau lapor kendala itu sama berharap bisa numpang ngecas sampe batre gue 40%an. Orangnya lagi sibuk kotak katik hp gue, trus gue nanya boleh pinejm cas an ga, orang pertama bilang gaada, orang kedua juga bilang gaada. Pas gue tau itu gara-gara mati lampu dan sinyal tower di daerah situ banyak yang mati gue langsung pergi tanpa bilang makasih1. Di situ gue udh setengah panik gitu karena udh tinggal 3% dan emang di daerah itu gaada angkot atau bisnya. 

Naek ojek biasa gue takut ditembak mahal. Gue lagi hemat jadi gue ga mikir untuk pulang naek taksi atau ojek biasa. Trus gue hubungin keluarga gue ya kayak biasalah ga sepenuhnya keluarga gue bisa diandelin. Dan kebetulan wa temen gue masuk, trus gue minta tolong dia buat hubungin mama gue. Pokoknya bener-bener gaada harepan dan gue juga takut ga ketemu sama keluarga gue kalo dijemput mereka karena mereka kebanyakan nanyanya dari pada usaha buat nyari lokasi dulu. Nah, di situ gue udah doa doa tuh, dan gue baru ngeh kok lancar ya kirim wa ga kayak tadi pending2. Itu batre gue udah tinggal 1% untungnya masih bisa buka app go jek, walaupun gua ngetiknya agak gemeteran akhirnya bisa ke pesen dan itu ga langsung dapet ya. Nunggu beberapa saat dulu mungkin karena hp abangnya juga ngalamin ganguan koneksi dan akhirnya dapet trus hp gue langsung mati. 

Di situ gue masih bersyukur juga sih, bener-bener ibarat orang mau napas trus gaada oksigen pas dia mau mati tiba-tiba ada oksigen muncul. Yah lega deh pokoknya, gue nunggu hampir 1 jam dan batre gue masih tahan untuk waktu selama itu. Walaupun sampe rumah gue diomelin karena kesannya nyusahin gue kebal denger omongan kayak gitu. Pokoknya sampe rumah itu juga mati lampu di rumah gue dan gue mutusin buat bikin indomie walaupun udh ga selera makan. Yah, gimana ya gue ngerasa Tuhan selalu ada walaupun gue sering dalam keadaan kecekek . Gue ga bisa bayangin lagi gimana deg2annya gue pas nunggu driver disaat batre gue  tinggal 1%

Kamis, 05 Januari 2017

Ruang Jiwa- "Ketakutan Membunuhmu!"

Saya pernah mengikuti mata kuliah yang membahas tentang Nazi. Jika saya tidak salah, ada sebuah camp tempat orang-orang ditahan. Camp tersebut berada di sebuah tempat yang sangat dingin. Entah itu di Rusia atau di mana saya kurang tau. Seingat saya, saya diberikan informasi bahwa orang-orang tahannya tidak disiksa secara langsung. Mereka ditahan entah diberi makan dan minum saya lupa, yang saya ingat mereka disekap di sebuah ruang gelap. Berapa jumlah tahanannya saya tidak tahu tapi ada banyak orang yang ditahan di sana. Ketika pagi hari tiba, mereka semua dibawa keluar tanpa menggunakan busana apa pun. Suhu di tempat tersebut sangat dingin karena turun salju. Mereka harus bertahan melawan dinginnya suhu di sana. Ketika malam tiba barulah mereka dibawa masuk ke ruangan. Bagi yang tidak bertahan, mereka mati kedinginan. Saya tidak tahu, mayat mereka dibawa untuk dikubur atau dibagaimanakan.

Setelah lama tidak mendengar kisah tersebut, saya mendengar sebuah khotbah dari seorang pendeta. Khotbahnya menceritakan hal yang sama. Tapi fokus dari ceritanya adalah seseorang yang selamat dari masa penahanan tersebut. Orang ini ikut ditahan kemudian ia diselamatkan dan dapat melanjutkan hidup kembali. Dia adalah seorang psikolog, dia meneliti mengenai orang-orang yang dapat selamat dari masa penahanan tersebut. Penelitiannya menemukan bahwa orang yang memahami makna kehidupanlah yang dapat bertahan hidup. Dari faktor eksternal memang tidak menutup kemungkinan akan mati dalam masa penahanan tersebut, tapi ada banyak orang yang dapat bertahan hidup termasuk si psikolog itu.

Orang-orang yang mengetahui meaningful life dapat bertahan hidup walaupun ia mengalami kesusahan hidup yang begitu menyiksa. Orang-orang yang mati mereka mati karena faktor psikis juga. Mereka terlalu takut ketika masa penahanan tersebut. Jiwa mereka yang sakit ini mempercepat kematian mereka. 

Dari kisah dan penjelasan di atas saya mengaitkan dengan kisah di Pulomas. Sekelompok orang merampok di rumah orang kaya. Perampok tersebut menyekap orang yang ada di rumah di sebuah kamar mandi. Di sini saya akan membahas sesuatu yang mungkin agak menyimpang dari pemikiran Anda. Saya bukan bermaksud membela si perampok. Saya hanya mengutarakan pendapat saya saja. 

Saya baca berita mengenai alasan si perampok menyekap mereka di kamar mandi. Si perampok tidak ada niatan untuk membunuh. Dia hanya bermaksud untuk menyekap agar situasi menjadi lebih aman dan mungkin dia menjadi lebih bebas untuk mengambil harta yang ada di rumah tersebut. Saya juga membaca komentar dari netizen, dari komentar yang ada mereka semua tidak setuju dan menyatakan itu sebuah kebohongan. Pernyataan dari si perampok hanyalah kebohongan. Namun, di sini saya percaya dengan alasan si perampok.

Saya berpikir kalau memang si perampok niat membunuh pasti dia sudah tusuk atau tembak korban-korbannya. Si perampok tidak ingin ia tertangkap makanya dia hanya menyekap korbannya di kamar mandi dengan pikiran toh mereka nanti akan keluar. Entah itu ditolong orang lain dengan ada kerabat yang akan datang atau bisa menyelamatkan nyawa sendiri dengan merusak pintu. Namun, takdir berkata lain. Korbannya meninggal lebih dari separuh jumlahnya. Mungkin si perampok kaget juga mendengar berita kematian korbannya itu.

Saya pun juga ikut kaget, saya sudah melihat videonya, Kamar mandi tersebut memang ukuran standar kamar mandi biasanya. Kekurangan oksigen pasti, karena banyak orang juga yang disekap di sana. Tapi, yang menjadi perhatian saya adalah jika saya mengingat kisah penahanan yang dilakukan oleh kelompok Nazi itu lebih kejam. Korbannya ditahan dalam jangka waktu yang sangat lama dengan keadaan yang lebih mencekam.Mereka sengaja ditahan memang untuk dibunuh, tapi dibunuh secara tidak langsung. Oh ya, saya baru ingat korban yang ditahan tersebut itu adalah korban yang merupakan keturunan yahudi (itu kalau saya tidak salah ya). Hebatnya masih adalah yang selamat. Mungkin karena mereka paham betul tentang meaningful life. Jadi, mereka tidak mau mati hanya karena disiksa seperti itu. Mereka percaya adanya keajaiban atau terang kasih Tuhan (jika mereka mengenal Tuhan) sehingga mereka terus bertahan hidup dan menekan ketakutan di dalam diri mereka. Mereka menanti keajaiban itu datang sampai akhirnya mereka diselamatkan dan berhasil bertahan hidup.

Bukan saya menyepelekan kasus di Pulomas, disekap selama beberapa jam memang menyiksa pastinya. Namun, saya rasa mereka yang meninggal itu memliki rasa takut yang lebih besar daripada memiliki pengharapan akan nantinya mereka bisa bertahan hidup. Mereka takut sehingga jiwa mereka ikut remuk. Pikiran dapat membunuh seseorang. Saya pernah terus berpikiran negatif yang menimbulkan rasa takut berlebihan sehingga kepala saya pusing sampai mau pinsan. Belajar dari pengalaman saya juga, saya tidak mau mengisi pikiran saya dengan hal-hal negatif sehingga rasa takut itu muncul.

Kisah di Pulomas atau pun kisah penahanan yang mengerikan itu menginspirasi hidup saya. Walaupun situasi begitu mencekam, saya berusaha semaksimal mungkin untuk tidak takut. Saya seseorang yang percaya Tuhan. Saya percaya saya dizinkan untuk merasakan kehidupan karena memiliki sebuah tujuan yang berguna untuk orang lain. Saya juga sepemikiran dengan orang-orang yang paham tentang meaningful life. Saya tidak mau mati sia-sia. Saya tidak mau hidup saya hancur hanya karena situasi rumit dan menakutkan. Dulu saya merupakan seseorang yang mudah putus asa. Jika mengalami sebuah kegagalan saya lebih memilih untuk mengakhiri dan tidak mau bertindak lagi. Saya asyik memikirkan penyebab kegagalan saya kebanding saya mencari jalan untuk mencapai keberhasilan.

Karea saya selalu mencari penyebab, saya suka menyalahkan entah itu orang lain, situasi, atau diri sendiri. Seringkali kejadian itu membuat kepala saya sakit karena rasa takut mencekik saya. Saya seperti orang kesulitan bernafas. Untunglah Tuhan masih sayang dengan saya, setiap hal itu mulai muncul saya diingatkan bahwa saya punya Tuhan yang akan memberikan jalan untuk saya. Untuk itu, saya bertahan dari masalah itu. Harapan pun muncul dan saya selalu mencoba tersenyum walaupun itu aneh sekali awalnya. Tapi senyuman membantu saya untuk bernafas. Pernafasan saya menjadi normal dan pikiran saya mulai tenang. Saya rasa ketakutan itu memang bisa membunuh. Untuk itu, kita sebaiknya dapat mengontrol rasa takut yang ada di dalam diri kita sendiri. Berusahalah untuk bersikap tenang jika mengalami masalah. Ingat! Tuhan tidak diam ketika kita memohon bantuannya. Bahkan saya percaya, orang yang tidak mengenal Tuhan pun pasti Tuhan bantu juga. Jadi, tidak perlu takut berlebihan ketika tengah mengalami sebuah masalah.



Senin, 05 Desember 2016

Ruang Jiwa - "Punya Modal Dulu Baru Dihargaiin"

Setelah nonton film yang seru menurut gue, gue baca chat dari salah satu grup di social media. Jujur, sedih bacanya. Gue ga ngerti kenapa semua manusia punya satu sifat yang sama. Gue ga tau itu sifat apa, tapi percampuran dari egois, sombong, arogan, tidak peduli, dan yang paling besar porsinya dalah senang merendahkan orang lain yang ga punya "modal". "Modal" di sini bermaksud kayak lo punya sesuatu di mana sesuatu itu dipandang orang. Contoh sederhananya adalah uang. Kalau lo kaya walaupun lo bego sekali pun, pasti ada penjilat-penjilat yang mau jadi temen lo, yang mau ngerhargaiin biar ditraktir. Setidaknya duit bisa dijadiin modal kalau diri lo bener-bener ga bisa menghasilkan sesuatu yang bisa dijadikan modal.

Gue kenal seseorang yah yang menurut gue bukan kesalahannya dia begitu. Dia kena musibah yang membuat fungsi otaknya mengalami penurunan. Jangan pikir ini hal sepele ya, karena penurunan itu setau gue dia cuman lulus SD karena ga sanggup nerusin kejenjang yang lebih tinggi. Gue ngerti sih, kalau masalah yang berkaitan dengan otak ya udah susah. Kalau bukan dari keluarga yang kaya-kaya banget ya akan begini nasibnya. Gue sedih liat orang-orang kayak gitu diremehin dari orang-orang yang berasal dari lingkungan orang "putih". Ada maksudnya juga ya "putih". Bukan maksud ke warna kulit loh. Tapi putih di sini yang berasal dari orang lingkungan baikah di mana selalu ditekenin harus selalu peduli sosial. Tapi apa? astaga! ga bisa jelasin gue.

Inti ceritanya, dia minta tolong untuk bantuin dia buat mempersiapkan sesuatu. Persiapan itu untuk tempat ibadah loh. Menurut gue gaada yang salah kok minta tolong kayak gitu. Masalah bahasanya? Orang yang tau latar belakangnya dia dan masih kesel karena itu gue bilang orang BEGO! Yes, orang bego. Mereka ga ngerti kenapa dia bisa munculin bahasa kayak gitu. Gue yakin kok mereka tau latar belakangnya. Gue aja yang ga terlalu deket dan aktif bisa tau. 

Balik lagi, karena dia ga punya modal yang banyak dan ketika dia minta tolong gaada yang mau bantuin. Gue mikir kalau yang minta tolong semacam aril tatum, yakin gue bakalan pada mau bantuin, Gaada alasan tuh kemalaman segala macem. Pulang malem karena hang out aja bisa kok masa bantuin kayak gitu aja tiba-tiba langsung pada jadi phobia malem. 

Terkadang gue juga ngerasain kayak gitu kok. Gilaran gue ga punya modal yang orang lain butuhin boro-boro diajak maen, disapa aja kagak. Jijik gue sebenernya sama orang-orang penjilat kayak gitu. Kenapa ya orang bersosialisasi aja harus pandang status dan embel-embel dulu. Iya, gue bersosialisasi juga pandang-pandang tapi gue cuman utamaian perilaku. Kalau perilakunya sopan baik ga yang kegaulan deh pasti gue jadiin temen kok, ga peduli tuh kaya miskin, dekil bersih, pinter bego. Hah! susahlah... gue berharap Tuhan kasih jalan buat dia yang tertindas. Tuhan ga ciptaan manusia tanpa alasan kok, semangat!!!!!

Rabu, 23 November 2016

Strategi Pembelajaran - Metode Demonstrasi

Ringkasan Metode Demonstrasi
1.      Metode demonstrasi adalah metode mengajar dengan menggunakan peragaan untuk memperjelas, memperlihatkan suatu proses situasi, kejadian, urutan melakukan suatu kegiatan atau benda tertentu yang sedang dipelajari kepada siswa.
2.      Manfaat metode demonstrasi , yaitu : perhatian siswa dapat lebih dipusatkan, Proses belajar siswa lebih terarah, hasil belajar lebih melekat di dalam  diri siswa.
3.      Tujuan penerapan metode demonstrasi menurut Pupuh Fathur Rochman ( 2007: 98) adalah untuk memperjelas pengertian konsep dan memperlihatkan cara melakukan sesuatu atau proses kepada siswa. Metode demonstrasi dapat membantu siswa dalam mengatasi kesulitan belajar dan pemahaman pelajaran yang diajarkan oleh guru. 
4.      Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar metode demonstrasi berjalan efektif diantaranya:
a.       Guru harus menyusun tujuan pembelajaran dan kompetensi dasar.
b.      Mempertimbangkan apakah dengan teknik yang akan dipakai sesuai dengan tujuan pembelajaran dan kompetensi dasar yang telah dirumuskan.
c.       Mempertimbangkan jumlah siswa dalam kelas.
d.      Mengecek alat – alat demonstrasi yang akan dipakai.
5.      Langkah-langkah penerapan metode demonstrasi:
a.       Mempersiapkan peralatan dan bahan
b.      Memberikan pengantar tentang prosedur dan instruksi keamanan kepada siswa.
c.       Memperagakan tindakan, proses, atau prosedur yang disertai penjelasan tentang prosedur, ilustrasi ,dan pertanyaan.
d.      Menciptakan suasana-suasana yang menyenangkan.
6.      Keunggulan metode demonstrasi menurut Roehstiyah NK (1990):
a.       Perhatian siswa lebih dapat dipusatkan.
b.      Konsep yang diterima siswa lebih mendalam.
c.       Siswa dilibatkan dengan pelajaran.
d.      Siswa dapat berpartisipasi aktif dan memperoleh pengalaman langsung.
e.       Dengan menghadirkan obyek sebenarnya, mengurangi terjadinya kesalahan konsep yang dibentuk oleh siswa nantinya.


7.      Kelemahan metode demonstrasi menurut Roehstiyah NK (1990):
a.       Memerlukan waktu yang cukup banyak dan tenaga yang tidak sedikit.
b.      Apabila terjadi kekurangan media, metode demonstrasi menjadi kurang efesien
c.       Memerlukan biaya yang cukup mahal, terutama untuk membeli bahan-bahannya atau dibutuhkan kreativitas yang tinggi untuk membuat alat-alat peraga dengan menggunakan bahan seadanya.
d.      Apabila siswa tidak aktif maka metode demonstransi menjadi tidak efektif.


Minggu, 28 Agustus 2016

Lembar Observasi

Lembar Observasi
Ketentuan Standar Ruang Kelas

Tempat Observasi                   :___________________________
Hari/ Tanggal                          :___________________________
Waktu                                     :___________________________

No
Pernyataan
Alternatif
Catatan
Ya
Tidak
A.
Ruang Kelas



1.       
Jumlah peserta didik dalam kelas kurang dari atau sama dengan 32 orang



2.       
Ukuran kelas melebihi atau sama dengan



3.       
Ruang kelas memiliki pencahayaan yang memadai



4.       
Ruang kelas memiliki pintu dengan ukuran yang memadai



5.       
Kondisi pintu baik (dapat dikunci ketika ruang kelas tidak digunakan, kuat, dll.)



B.
Sarana Ruang Kelas




a.       Perabot


Setiap peserta didik mendapatkan 1 buah kursi yang layak pakai (ukuran sesuai, kuat, stabil, dll.)



Setiap peserta didik mendapatkan meja belajar yang layak pakai (kuat dan stabil) dan mudah dipindahkan



Terdapat meja guru



Terdapat kursi guru



Terdapat lemari dengan ukuran dan kondisi yang memadai



b.      Peralatan Pendidikan



Terdapat alat peraga yang dapat menunjang pembelajaran matematika



c.       Media Pendidikan



Terdapat papan tulis dengan ukuran yang memadai dan letak yang strategis



d.      Perlengkapan Lain



Terdapat tempat sampah



Terdapat tempat cuci tangan



Terdapat soket listrik



Terdapat Jam dinding





Kisi-Kisi Pedoman Observasi

Kisi-Kisi Pedoman Observasi
Ketentuan Standar Ruang Kelas
No.
Aspek yang diamati
Pernyataan
1.
Ruang Kelas
Jumlah peserta didik dalam kelas kurang dari atau sama dengan 32 orang
Ukuran kelas melebihi atau sama dengan
Ruang kelas memiliki pencahayaan yang memadai
Ruang kelas memiliki pintu dengan ukuran yang memadai
Kondisi pintu baik
2.
Sarana Ruang Kelas


a.       Perabot
Setiap peserta didik mendapatkan 1 buah kursi yang layak pakai (ukuran sesuai, kuat, stabil, dll.)
Setiap peserta didik mendapatkan meja belajar yang layak pakai (kuat dan stabil) dan mudah dipindahkan
Terdapat meja guru
Terdapat kursi guru
Terdapat lemari dengan ukuran dan kondisi yang memadai
Terdapat rak/papan untuk karya peserta didik
b.      Peralatan Pendidikan
Terdapat alat peraga yang dapat menunjang pembelajaran matematika
c.       Media pendidikan
Terdapat papan tulis dengan ukuran yang memadai dan letak yang strategis
d.      Perlengkapan Lain
Terdapat tempat sampah
Terdapat tempat cuci tangan
Terdapat jam dinding
Terdapat soket listrik